Kamis, 18 Juni 2015

SEMBILAN JALAN BHAKTI (NAVA VIDA BHAKTI)



JALAN BHAKTI


Om Swastyastu,
Om Awighnam Astu Namo Siddham

Umat sedharma
Pada kesempatan ini pesan dharma yang saya angkat ”Jalan Bhakti”  judul ini yang saya angkat dari sloka IV-11. yang di kutib dari kitab suci bhagawad gita,

Ye yathā māṁ prapadyante
tāṁs tathaiva bhajāmy aham,
Mama vartmānuvartante
manușyāḥ pārtha sarvaśaḥ.
Artinya:

Jalan apapun orang memuja-Ku,  pada jalan yang sama Aku memenuhi keinginannya, wahai partha, karena pada semua jalan yang ditempuh mereka, semuanya jalan-Ku.

Bhakti di ambil dari kata ’bhaj’ yang berarti melayani Tuhan, yaitu keterikatan kasih kepada tuhan ((parama prema rupa). Kasih sayang yang di sertai tulus iklas tanpa mengharapkan hasil, dimana segala kegiatan kerja sepenuhnya di persembahkan kepada gurunya guru.
Bhakti dalam bhagawad gita adalah lebih menekankan pada kerendahan hati, kesabaran, kesipan untuk melayani, keharuman dan cinta kasih sayang yang lembut, karena sipenyembah berkeinginan untuk memasrahkan dirinya, mengesampingkan kehendak dirinya.
Dalam bhagawata purana (VII. 5. 23) dalam bukunya yajna dan bhakti ketut Wiana (1995:133) di sebutkan ada sembilan jalan bhakti yang patut dilaksanakan, yaitu:

Srawanam kirtanam visnah
Smaranam pada sevanam
Archanam vandanam dasyam
Sakhyam atmanivandanam




Umat sedharma
Ada beberapa jalan bhakti,

1. Srawanam
Srawanam berasal dari kata ”sru” artinya mendengar. Sedangkan ”nam” artinya memuja. Srawanam adalah memuja Brahman dengan jalan mendengar cerita-cerita suci dan mantram-mantram Veda.
2. Kirtanam
Kirtanam artinya berbhakti dengan jalan melantunkan kidung-kidung suci keagamaan yang berisi pujuan terhadap kemaha kuasaan dan keagungan Brahman dengan berulang-ulang. Dengan kita melantunkan kidung suci di harapkan dapat menghasilkan getaran-getaran suci.

3. Smaranam
Smaranam berasal dari urat kata ’Smrt” yang berarti mengingat. Semaranam disini dimaksudkan adalah berbhakti kehadapan Brahman dengan jalan selalu mengiat brahman atas manifestasinya, supaya getaran dan kemaha kuasaan Brahman berpengaruh kuat pada diti kita. Dengan kita mengingat kebesaran Tuhan pikiran akan selalu tersucikan, agar pengaruh-pengaruh yang bersifat kurang baik dapat kita hindarkan dan kita mencegah. Mengigat dan memuja Brahman dengan setiap hari akan memberikan pengaruh yang spiritual yang luar biasa walaupung kita sebagai manusia selalu sering berbuat salah dan khilap namun dengan kita mengiat nama Tuhan smoga kita dijalan Dharma.

4. Archanam
Archanam berasal dari kata ”Arca” yang artinya pemujaan denga rasa hormat  melalui arca atau pratima (gambar,lambang atau simbul) yang sudah tersucikan
Memalaui upacara atau yang lainnya.





5 Wandanam
Wandanam adalah jalan bhakti dengan jalan membaca cerita-cerita suci, membaca sloka, membaca mantram kitab suci Veda dengan penuh keikhlasan yang ber tujuan untuk mendapatakan kejernihan pikiran ketenangan jiawa kedamaian hati.

6. Dasyam
Dasyam artinya melayani atau mengabdi kepada Brahman dengan rasa tulus ikhlas. Dalam praktek kehidupan  di masyarakat dalam bentuk nagayah di pura, gotong royong, karena ngayah dalam bentuk perbuatan nyata yang merupakan perewujudan jalan bhakti kepada Brahman.

7. Padasewanam
Berasal dari kata ”pada” yang artinya kaki dan ”sewa” artinya melayani, sedangkan, ”nam” artinya memuja. Pada sewanam ialah berbhakti kepada dengan jalan mengabdi kehadapan  Brahman yang mengabdi pada kaki padma.

8. Sakyanam
Berasal dari kata ”sakha” yang artinya sahabat. Jadi sakhyanam adalah jalan bhakti  kehadapan brahman seperti teman dan sahabat dekat, yang selalu rindu dan cinta kepada-Nya setiap waktu.

9. Atmanivandanam
Yang artinya pemujaan yang dilakukan dengan penyerahan diri sepenuhnya kehadapan Brahman. Penyerahan ini seperti seekor anak kera yang erat-erat berpegangan pada perut induknya tanpa rasa takut walaupun melompat kemana-mana. Demikian pula manusia kepada Brahman, yang sepenuhnya menyerahakan diirinya kepada Brahman yang berpegang teguh atas kemaha kuasaan dan keagungan beliau. Melalui semua ajaran – ajaran di dakan kitab suci Veda.

BHAKTI dapat menimbulkan keinginan untuk berkorban
Seperti seseorang yang jatuh cinta dan selalu rindu ingin bertemu dengan kekasihnya selain itu keinginan untuk berbuat sesuatu yang dapat menyenagkan  kekasihnya walaupun ia belum memintanya. Demikia pual umat hindu, mereka mempersembahkan yang paling baik dan indah kehadapan Brahman.
Umat se-dharma

BHAKTI dapat melahirkan rasa seni, karena bhakti manusia kepada Brahman maka munculah bermacam-macam seni seperti seni tari, seni tabuh, seni lukis, seni ukir/pahat, seni sastra, seni bangunan dan sebgainya. Tempat suci pura dibangun dengan dengan indah disertai hiasanukiran-ukiran yang sangat mengagumkan. Pada penjor dipasangpun mempunyai nilai seni. BHAKTI melenyapkan rasa benci dan marah, ia tidak akan menyakiti perasaan orang lain. Selalu ramah tamah kepada setiap orang tanpa membedakan-bedakan simiskin atau kaya, buruk atau rendah, tinggi atau pendek.

OM SANTIH SANTIH SANTIH OM

MAKNA HARI RAYA GALUNGAN

BRATA GALUNGAN
 Sebuah pendakian spiritual untuk mencapai kebahagian dan  kedamaian abadi “
                       Oleh : I Wayan Sudarma,(Shri Danu Dharma P.)

Setiap menjelang hari Raya Galungan, pastilah kita sering menerima  dan mengirim-membuat ucapan selamat baik secara langsung maupun melalui media, seperti surat kabar, majalah, TV, SMS, dsb. Jika dibaca dan dihayati ucapan itu begitu Indah dan melankolis. Tapi yang ada sesunguhnya kita lebih banyak  membohongi diri sendiri, karena apa yang kita ucapkan dan kita buat kita belum bias melakukannya atau belum dapat meraihnya, yaitu jadi Pemenang atas Dharma Jati Diri melawan Adharma yang ada dalam diri ini juga.



Kata Galungan berasal dari bahasa Jawa Kuno yang berarti ; menang atau bertarung. Galungan juga sama artinya dengan Dungulan dalam Bahasa Bali Kuno. Hari Raya Galungan sudah dirayakan terlebih dahulu di tanah Jawa, ini sesuai dengan lontar berbahasa Jawa Kuno yaitu : Kidung Panji Amalat Rasmi. Di Bali  Hari Raya Galungan untuk pertama kali dilaksanakan pada Hari Purnama Kapat , Budha Kliwon Dungulan tahun Saka 804 atau tahun 882 Masehi ini sesuai dengan lontar "Purana Bali Dwipa"

Makna Filossofis Galungan
Galungan adalah suatu upacara sakral yang memberikan kekuatan spritual agar mampu membedakan mana dorongan hidup yang berasal dari Adharma dan mana dari Budhi Atma yaitu : Suara Kebenaran (Dharma) dalam diri manusia. Disamping  itu juga berarti kemampuan untuk membedakan kecendrungan keraksasaan (asura sampad) dan kecendrungan kedewaan (dewa sampad) karena hidup yang berbahagia atau ananda adalah hidup yang memiliki kemampuan untuk menguasai kecenderungan keraksasaan. Dalam lontar Sunarigama dijelaskan rincian upacara Hari Raya Galungan sebagai berikut : "Rabu Kliwon Dungulan namanya Galungan, arahkan bersatunya rohani supaya mendapatkan pandangan yang terang untuk melenyapkan segala kekacuan pikiran" Jadi inti Galungan adalah menyatukan kekuatan rohani agar mendapatkan pikiran dan pendirian yang terang. Bersatunya rohani dan pikiran yang terang inilah wujud dharma dalam diri. Sedangkan segala kekacuan pikiran (byaparaning idep) adalah wujud Adharma. Kesimpulan dari lontar Sunarigama; bahwa Galungan adalah kemenangan Dharma  melawan Adharma.

Namun kemudian muncul pertanyaan untuk kita semua; setelah sekian lama umat Hindu merayakan Galungan setiap enam bulan sekali, Apakah umat Hindu sudah menang ? kemenangan seperti apa ?, mengapa moralitas kita sekarang semakin menurun, seolah-olah Adharmalah yang menjadi pemenang !?. Jika direnungkan berarti selama ini kita telah melakukan kekeliruan interpretasi terhadap hari Raya Galungan, sehingga pesan terdalam yang menjadi ROH dari Galungan hilang tak berbekas, karena kita baru besar pada ritual atau berupacara saja, tetapi belum bisa memaknainya sebagai media untuk merubah diri dari Avidya menuju Vidya agar menjadi Vijnanam  untuk mencapai Anandam
Pesan Rohani Galungan
“Perangilah musuh dalam dirimu, hingga Engkau layak merayakan Galungan”

A.        Sugihan Jawa atau Sugihan Jaba yaitu ;
Sebuah kegiatan rohani dalam rangka menyucikan bhuana agung (makrocosmos) yang jatuh pada hari Kamis Wage Sungsang. Kata Sugihan berasal dari urat kata Sugi yang artinya membersihkan dan Jaba artinya luar, dalam lontar Sundarigama dijelaskan: bahwa Sugihan Jawa merupakan  "Pasucian dewa kalinggania pamrastista bhatara kabeh" (pesucian dewa, karena itu hari penyucian semua bhatara). Pelaksanaan upacara ini dengan membersihkan alam lingkungan, baik pura, tempat tinggal, dan peralatan upacara di masing-masing tempat suci. Dan yang terpenting adalah membersihkan badan phisik dari debu kotoran dunia Maya, agar layak dihuni oleh Sang Jiwa Suci sebagai Brahma Pura.

B.         Sugihan Bali
Bali dalam bahasa Sansekerta berarti kekuatan yang ada dalam diri. Jadi Sugihan Bali memiliki makna yaitu menyucikan diri sendiri sesuai dengan lontar sunarigama: "Kalinggania amrestista raga tawulan" (oleh karenanya menyucikan badan jasmani-rohani masing-masing /mikrocosmos) yaitu dengan memohon tirta pembersihan /penglukatan. Manusia tidak saja terdiri dari badan phisik tetapi juga badan rohani (Suksma Sarira dan Antahkarana Sarira). Persiapan phisik dan rohani adalah modal awal yang harus diperkuat sehingga sistem kekebalan tubuh ini menjadi maksimal untuk menghadapi musuh yang akan menggoda pertapaan kita.

C.          Panyekeban – puasa I
Jatuh pada hari Minggu Pahing Dungulan.
Panyekeban artinya mengendalikan semua indrya dari pengaruh negatif, karena hari ini Sangkala Tiga Wisesa turun ke dunia untuk mengganggu dan menggoda kekokohan manusia dalam melaksanakan Hari Galungan. Dalam Lontar Sunarigama disebutkan : "Anyekung Jnana" artinya mendiamkan pikiran agar tidak dimasuki oleh Bhuta Galungan dan juga disebutkan "Nirmalakena" (orang yang pikirannya yang selalu suci) tidak akan dimasuki oleh Bhuta Galungan. Melihat pesan Panyekeban ini mewajibkan umat Hindu untuk mulai melaksanakan Brata atau Upavasa sehingga pemenuhan akan kebutuhan semua Indriya tidak jatuh kedalam kubangan dosa; pikirkan yang baik dan benar, berbicara kebenaran, berprilaku bijak dan bajik, mendengar kebenaran, menikmati makanan yang sattvika, dan yang lain, agar tetap memiliki kekuatan untuk menghalau godaan Sang Mara. Jadi tidak hanya nyekeb pisang atau tape untuk banten

D.         Penyajan – puasa II
Artinya hari ini umat mengadakan Tapa Samadhi dengan pemujaan kepada Ista Dewata. Penyajan dalam lontar Sunarigama disebutkan : "Pangastawaning Sang Ngamong Yoga Samadhi" upacara ini dilaksanakan pada hari Senin Pon Dungulan. Dengan Wiweka dan Winaya, manusia Hindu diajak untuk dapat memilah kemudian memilih yang mana benar dan salah, yang mana boleh dan tidak boleh, yang mana hak dan yang bukan hak.bukan semata-mata membuat kue untuk upacara

E      Penampahan – puasa III
Berasal dari kata tampah atau sembelih artinya ; bahwa pada hari ini manusia melakukan pertempuran melawan Adharma, atau hari untuk mengalahkan Bhuta Galungan dengan upacara pokok yaitu Mabyakala yaitu; membayar kepada Bhuta Kala . Makna sesungguhnya dari hari penampahan ini adalah memangkas dan mengeliminir sifat-sifat kebinatangan yang ada pada diri, bukan semata-mata membunuh hewan korban, karena musuh sebenarnya ada di dalam diri, bukan di luar termasuk sifat hewani tersebut. Ini sesuai dengan lontar Sunarigama yaitu ; "Pamyakala  kala malaradan" artinya membayar hutang kepada ruang dan waktu . Bhuta = ruang , Kala = waktu , jadi Bhuta kala adalah ruang dan waktu, jadi harus diharmonisasi karena kita hidup diantara keduanya termasuk Atma hidup di antara ruang dan waktu jasmani yang diliputi oleh Bhuta. Inilah puncak dari Brata dan Upavasa umat Hindu, bertempur melawan semua bentuk Ahamkara - kegelapan yang bercokol dalam diri. Selama ini justru sebagain besar dari kita malah berpesta pora makan, lupa terhadap jati diri, menikmati makanan, mabuk. Sehingga bukan Nyomya Bhuta Kala- Nyupat Angga Sarira, malah kita akhirnya menjelma jadi Bhuta itu sendiri. Dengan demikian bagaimana mau jadi pemenang malah jadi pecundang.

F          Galungan – lebar puasa
Hari kemenangan dharma terhadap adharma setelah berhasil mengatasi semua godaan selama perjalan hidup ini, dan merupakan titik balik agar manusia senantiasa mengendalikan diri dan berkarma sesuai dengan dharma dalam rangka meningkatkan kualitas hidup dan dalam usaha mencapai anandam atau jagadhita dan moksa serta shanti dalam hidup sebagai mahluk yang berwiweka.

G         Manis Galungan
Setelah merayakan kemenangan , manusia merasakan nikmatnya (manisnya) kemenangan dengan mengunjungi sanak saudara dengan penuh keceriaan, berbagi suka cita, mengabarkan ajaran kebenaran betapa  nikmatnya bisa meneguk kemenangan. Jadi hari ini umat Hindu wajib mewartakan-menyampaikan pesan dharma kepada semua manusia inilah misi  umat  Hindu: Dharma Vada- menyampaikan ajaran kebenaran dengan Satyam Vada – mengatakan dengan kesungguhan daan kejujuran. “ kabarkan kebenaran ini kepada mereka yang masih tersesat agar kembali ke ajaran Dharma, sampaikan kepada mereka  wahai putra Utama”- janganlah malahan Engkau yang menjadi  manusia tersesat dan kesasar dengan meninggalkan Dharma”!!

H         Pemaridan Guru
Jatuh pada hari Sabtu Pon Dungulan, maknyanya pada hari ini dilambangkan dewata kembali ke sorga dan meninggalkan anugrah berupa kadirgayusan yaitu ; hidup sehat umur panjang dan hari ini umat menikmati waranugraha dari dewata. Demikian makna Hari Raya Galungan sebagai hari pendakian spritual dalam mencapai kemenangan /wijaya dalam hidup ini ditinjau dari sudut pelaksanaan upacara dan filosofisnya.



“ Anda mau jadi pemenang sejati ? Jangan pura-pura menang dan seoalah-olah sudah melakukan pesan Galungan dengan taat.
“Kalau anda tidak mulai saat ini? Kapan lagi, apa menunggu anda menjadi tua, itu kalau Anda sempat menjadi Tua, kalau tidak, sia-sialah hidup Anda yang bagaikan kilatan petir”

“Sampaikanlah kebenaran dengan cara menyenangkan, tapi jangan menyenangi ketidakbenaran walau itu menyenangkan Anda - Raih kemenangan bukan kepalsuan”

Let’s Do It Now
Or
Not For Ever

Rabu, 17 Juni 2015

Dharma Wacana



"Mengapa kita harus belajar weda"

Jero mangku sane wangian titing bapak kelian adat sane hormatin titiyang,dan umat se-dharma yang saya banggakan dan saya cintai sebelumnya terimalah salam penganjali dari tiyang

Om swastyastu
Om awighnamastu namo saddham
Semoga karunia hyang widhi yang maha agung selalu menyertai kita semua.
Semoga cinta kasihnya senantiasa menyertai kita semua,dan semoga kebijaksanaan nya senantiasa menerangi kegelapan dan kekurangan kita semua.

puji dan syukur kita panjatkan kehadirat ida sang hyang widi wasa karena atas berkat dan rahmat beliaulah kita dapat berkumpul pada saat piodalan puniki dalam keadaan sehat dan sejahtera.

Umat se-dharma yang berbahagia,
Pada kesempatan ini saya akan mengangkat tema’’etika’’yang mana berjudul” Mengapa kita harus belajar veda” mengapa saya mengangkat tema ini karena Yang menarik dalam Hindu adalah kenyataan dimana tidak semua orang Hindu tahu apa dan bagaimana itu kitab suci Veda. Meskipun mereka mengetahui dasar-dasar filsafat, upacara dan susila yang diajarkan oleh Veda, namun sangat jarang yang pernah menyentuh dan membaca kitab suci Veda secara langsung. Kenyataan yang benar-benar bertolak belakang dengan penganut agama-agama besar lainnya. Mereka pada umumnya sudah dibimbing sejak mereka sangat fasih mengutip ayat-ayat kitab suci mereka.

Umat se-dharma yang berbahagia
kecil untuk mengenal dan membaca kitab suci mereka sehingga tidaklah mengherankan jika Jangankan untuk mengutip ayat-ayat/sloka-sloka Veda, pengetahuan apa yang disebut sebagai Veda saja masih sangat kurang dalam masyarakat Hindu di Indonesia khususnya. Jika anda bertanya, mungkin akan ada orang Hindu yang menyebutkan bahwa yang disebut Veda hanyalah Catur Veda. Sementara itu di pihak lain akan ada yang mengatakan bahwa yang disebut Veda mencakup Veda Sruti dan Veda Smrti. Yang memiliki pandangan kedua inipun mungkin akan memiliki beda persepsi lagi dalam pengelompokan bagian-bagiannya. Lalu jika kita mengacu pada penjelasan dari sloka-sloka Veda itu sendri, sebenarnya apa sih yang disebut sebagai Veda?
Berjalan dalam aturan Dharma memang tidak harus mengetahui apa itu Veda. Sangat banyak tetua-tetua kita yang buta hurup dan tidak pernah mengetahui apa itu Veda tetapi memiliki kualitas bhakti dan moral yang jauh lebih baik dari kita yang sedang belajar mengenal Veda. Namun dengan demikian apakah itu artinya kita tidak perlu mengetahui ajaran Veda dengan baik?

Umat se-dharma yang berbahagia
Di sini saya contohkan Bagaikan mengoperasikan perangkat elektronik baru. Pada saat pembelian disamping mendapatkan perangkat elektronik yang dimaksud, pabrikan juga sudah menyertakan buku panduannya. Ada orang yang dengan mudahnya bisa mengerti dan mengoperasikan perangkat tersebut tanpa harus menyentuh buku panduannya karena sebelumnya dia memang sudah pernah berhadapan dengan perangkat yang serupa. Di lain pihak ada orang yang baru pernah bersentuhan dengan perangkat tersebut. Di antara mereka akan ada yang mencoba belajar mengoperasikannya dengan mengikuti buku petunjuk yang disertakan pabrikan. Ada juga yang mencoba bertanya pada orang-orang yang lebih tahu cara pengoperasian peralatan tersebut. Namun ada juga kelompok orang yang tidak mau tahu. Mereka sama sekali tidak berusaha membaca buku panduannya dan tidak juga mau bertanya kepada orang yang tahu pengoperasiannya. Mereka memilih untuk trial and error. Tentunya dari tiga jenis orang yang belajar mengoperasikan peralatan yang sama, orang yang mencoba belajar berdasarkan buku petunjuk dan/atau bertanya kepada orang yang lebih tahu akan lebih cepat dan mudah menguasai perangkat tersebut. Bahkan risiko kerusakan perangkat akibat trial and error jauh lebih kecil dengan mengikuti buku petunjuk yang disediakan.
Demikian juga halnya dengan keberadaan Veda sebagai buku panduan alam material dan alam rohani ini. Sebagaimana disampaikan dalam Brhad-Aranyaka Upanisad 2.4.10; “Rg. Yajur, Sama dan Atharva Veda dan Itihasa semuanya keluar dari nafas kebenaran mutlak, Tuhan Yang Maha Esa”. Hal serupa juga disampaikan dalam Bhagavad Gita 3.15;

“Karma brahmodbhavam viddhim
Brahmaksara samudbhawam,
Tasmat sarva gatam brahma
Nityam yajne pratistham.”

Artinya
Ketahuilah,adanya karma adalah karena brahma yang ada dari yang maha abadi,karena itu brahma yang melingkupi semuanya ini selalu berkisar di sekitar persembahan.

pengetahuan Veda langsung diwejangkan oleh Tuhan Yang Maha Esa”. Karena itu, Veda bersifat mutlak (absolut), benar dengan sendirinya (self-authoritative), apauruseya (bukan buatan manusia) dan berhakekat mengatasi hal-hal duniawi (transendental). Veda disabdakan oleh Tuhan YME Sri Krishna kepada Brahma sebelum alam mateterial tercipta. Kemudian Brahma mengajarkan Veda tersebut kepada putra-putranya yakni para Rishi.
Umat se-dharma yang berbahagia
pahala kitab suci Weda dipelajari untuk mengetahui tujuannya yaitu memperbaiki prilaku (Sila) dan memperbaiki kebiasaan hidup(Acara)”.
Tuhan mensabdakan sabda suci Weda pada para Resi bukan sekedar untuk dibangga-banggakan bahwa kita punya kitab suci sabda Tuhan yang hebat.Apa lagi kebanggaan itu terus berlebihan sampai menjadi kesombongan.Weda sabda suci Tuhan itu diturunkan kedunia untuk dipelajari dengan sungguh-sungguh dan dengan upaya tersebut kita bisa memperbaiki tingkah laku dan berbagai kebiasaan hidup ber sama yang menuju kearah yang semakin benar ,baik, wajar dan tepat. Prilaku yang semakin baik itu adalah prilaku yang semakin sesuai denggan konsep prilaku yang disabdakan oleh Tuhan dalam kitab suci. Tujuan suci mempe lajari Weda itu dinyatakan dalam Sarasamuscaya 177 yang dikutif diatas yaitu ayuning sila muang acara.

Sila itu adalah prilaku diri sedangkan Acara adalah tradisi kehidupan yang sesuai dengan ajaran Agama.Ayuning Sila itu adalah hidup yang mampu mewujudkan prilaku benar.,baik dan wajar.Maksudnya mendayagunakan Sraddha dan Bhaktinya pada Tuhan untuk menguatkan daya spritualnya membangun kesadaran bhudi nurani.Kesadaran budhi nurani itu menjadi landasan untuk menajamkan kecerdasan intelektual.Kuatnya daya spiritual dan cerdasnya eksistensi intelektual untuk mengarahkan kepekaan emosi pada pengamalan Dharma. Dengan demikian upaya mempelajari kitab suci itu dapat mendatang pada tiga kecintaan yaitu Dewa Abhimana yaitu cinta pada Tuhan dengan berbagai sinar sucinya yang disebut Dewa itu dalam wujud Bhakti,Dharma Abhimana yaitu cinta pada kebenaran dengan wujud selalu mengupayakan pikiran,perkataan dan prilaku yang sesuai dengan Dharma. dan Desa Abhimana cinta pada tanah kelahiran dalam wujud pengabdian yang tulus pada kesejahtraan tanah air tempat kita pertama menginjakan kaki di bumi ini.Sila Rahayu sebagai salah satu tujuan belajar kitab suci Weda adalah untuk mengembangkan tiga kecintaan tersebut.

Dengan tiga kecintaan itu diharapkan melahirkan tiga upaya yaitu Swastya Wahini yaitu peduli pada upaya pengembangan hidup sehat (health care) lahir batin baik untuk kesehatan individu maupun kesehatan masyarakat luas. Widya Wahini yaitu peduli pada upaya pengembangan pendidikan (educational care). Pendidikan itu untuk mengembangkan kehidupan yang benar .baik dan wajar.Pendidikan yang benar baik dan wajar itu bukan pendidikan yang semata-mata mengajar peserta didik untuk mencari nafkah.Tetapi pendidikkan yang meng hasilkan peserta didik untuk membina hidup sehat lahir batin,bermoral dan bermartabat.Praja Wahini yaitu belajar Weda harusnya mendatangkan kepedulian pada nasib sesama dalam masyarakat (sosial care).
umat se-dharma yang berbahagia
hidup ini adalah laksana sebuah kapal yang akan dibawa melintasi
samudra kehidupan.manusia mempunyai akal ,mempunyai pengetahuan,dan juga mempunyai pengalaman.,seorang yang bijak ia adalah laksana pelaut yang mampu mengen dalikan kapalnya dengan mempergunakan segala sarana yang ada.bukan menyerahkan diri pada nasib,oleh karena itu mari kita bersama-sama belajar weda.
Umat se-dharma demikianlah dharma wacana ini saya sampaikan mudah-mudahan bermanfaat bagi kita semua,dan apa bila ada kata-kata saya yang kurang berkenan dihati umat sedhrma saya mohon maaf yang sebesar-besarnya dan kehadapan brahman saya mohon ampun.
OM SANTIH,SANTIH,SANTIH,OM